Sejarah sebagai Proses


KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Buku-buku GusDur
Judul:Membaca Sejarah Nusantara : 25 Kolom Sejarah Gus Dur
Penulis:Abdurrahman Wahid
Pengantar:KH. A. Mustofa Bisri
Penerbit:LKiS, Yogyakarta
Edisi:Pertama, 2010
Tebal:xx+133 halaman
Bab:Membaca Sejarah Lama (1)
Halaman:1-4

Membaca Sejarah Lama (1) merupakan fragmen pertama yang tersajikan dalam buku ini. Kolom ini mengajak pembaca untuk memasuki kesejarahan bangsa Indonesia melalui gerbang utama. Gerbang pembacaan sejarah yang selama ini acapkali terhindari dan –bahkan- tak disadari keberadaannya.

Meski cenderung praktis bernuansa tip, tulisan yang satu ini merupakan salah satu kunci untuk membongkar nilai-nilai sejarah yang tersaji maupun yang termanipulasi. Nilai-nilai itulah yang seyogyanya dijadikan pemantik pembaca untuk mengekpresikan pesan-pesan sejarah. Sejarah bukanlah produk penjabar, pengukuh, penolak, penghias, penyemangat, penjejal, dan perecok belaka. Melainkan juga sesuatu yang terlekati arti-arti dan nilai-nilai pasif.

Baik arti maupun nilai-nilai pasif itu sendiri hanya bisa diaktifasi dan direaktifasi melalui kesadaran akan pembacaan sejarah sebagai sebuah proses (hlm.4). Tanpa kesadaran itu penyimak sejarah bakal cenderung menjadi pasif dan memperparah kepasifan sejarah. Dikatakan memperparah karena dalam sejarah juga terdapat kepasifan dibalik tuturan yang seolah-olah aktif. Dan, kepasifan itu akan tampak jelas ketika sejarah terbuktikan ketergantungannya pada penyimak dan pengguna.
Penyimak sejarah yang sadar, akan berusaha membuka diri dan bijak terhadap segala hal yang mengarah pada perbedaan versi. Perbedaan itu justru bakal digunakan sebagai bahan pemerkaya wawasan dan analisis yang memungkinkan penyimak bisa selamat dari kungkungan frame-frame tertentu. Luasnya wawasan dan analisis itu, kemudian, dijadikan sebagai pijakan untuk menilai suatu sejarah dan mengekspresikan pesan-pesannya di masa mendatang secara luas.

" Penyimak sejarah yang sadar, akan berusaha membuka diri dan bijak terhadap segala hal yang mengarah pada perbedaan versi "


Penyimak semacam itulah yang nantinya bisa dikategorikan sebagai penyimak aktif yang mampu menggunakan pengetahuan sejarah. Mereka tidak hanya mampu menggunakan sejarah sebatas simbol-simbol keluhuran-kebiadaban dan solusi temporal-dangkal. Para orang tua tidak hanya akan menjadikan sejarah sebagai dongeng sebelum tidur bagi putera-puterinya belaka. Melainkan turut aktif dalam menjabarkan nilai-nilai positif-negatif yang musti diketahui buah hati mereka berikut penerapannya terkini.

Selain itu, ada juga penyimak pasif yang mempergunakan sejarah sebagai kenangan lawas semata. Sejarah dianggap sebagai sesuatu yang kuno, tak bermakna, dan hanya bisa dimanfaatkan sebagai pelipur atau pengalih kenangan. Sejarah menjadi sebatas dongeng faktual yang menyadarkan ingatan mereka bahwa di zaman dulu pernah terjadi suatu peristiwa atau kehidupan. Sejarah akan dijadikan sebagai bahan pencari solusi sesaat yang sifatnya temporal-dangkal. Semisal, untuk menjawab soal-soal ujian sekolah atau kuliah.

Lebih mengerikan lagi, ada juga penyimak yang menempatkan sejarah sebagai penjegal masa kini dan masa depan. Sejarah dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar lampau dan tidak bisa ditiru ulang atau diambil pelajarannya. Sejarah dianggap sesuatu yang tidak memiliki nilai-nilai yang positif, konstruktif, dan berharga. Yang ada hanya dongeng karikatural. Tampak lucu jika dibaca ulang di zaman sekarang.*** [MG. Sungatno/CABC]

read more >>

Telusur Sejarah Wayang

wayang,sejarah,arjuna,nakula,sadewa,wayang golek, wong, potehi, china, asal-usul,jenis-jenis, ciri-ciri,ketoprakJudul Buku : Sejarah Wayang : Asal-Usul, Jenis, dan Cirinya

Penulis : Amir Mertosedono SH

Penerbit : Dahara Prize, Semarang

Cetakan : ke-3, 1993

Tebal : 116 halaman


Nampaknya, akhir-akhir ini para generasi muda Indonesia kurang berminat dan manaruh respek terhadap kebudayaan sendiri. Ini dapat dilihat dari kurangnya perhatian dan kegemaran mereka terhadap kebudayaan wayang. Padahal, wayang merupakan hasil kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Demikian disampaikan Amir Mertosedono SH di dalam lembaran kata pengantar buku yang berjudul Sejarah Wayang; Asal-Usul, Jenis, dan Cirinya ini. ”Sebagai hasil kreasi bangsa, wayang memiliki banyak peran di dalam kehidupan masyarakat. Baik sebagai media hiburan, pendidikan maupun sarana penyampaian informasi,” tambahnya.

Sangat patut disayangkan, lanjut Amir Mertosedono, bila kebudayaan sendiri akan terabaikan karena pengaruh unsur-unsur budaya asing. Sudah banyak orang-orang Amerika dan Eropa yang berdatangan ke Indonesia hanya untuk belajar dan memperdalam pengetahuan seputar wayang. Sangat ironis, kemudian, jika bangsa Indonesia malahan akrab dengan budaya asing namun asing dengan budaya sendiri.

Melalui buku ini, Amir Mertosedono berbagi pengetahuan seputar wayang yang jenisnya beraneka ragam itu. Ada Wayang Purwa, Wayang Gedhog, Wayang Klithik, Wayang Golek, Wayang Topeng, Wayang Wong (Wayang Orang), dan Wayang Beber. Ada juga Wayang China (Wayang Tithi atau Wayang Potehi), Wayang Klitik (Wayang Krucil), Wayang Kulit dan Wayang Madya. Selain itu juga ada Wayang Wong, Bedhaya Srimpi, Gambyong, Wireng, Pethilan, Bondhan, Golek, Langenwanara, Pranasmara, Topeng, Lerok, Ludruk, Kethoprak (Ketoprak), dan Ludruk.

Pada bab Sejarah Wayang, Amir Mertosedono, memaparkan asal-usul, silsilah, pengertian, dan jenis-jenis wayang. Dari sini terdapat kesimpulan yang syarat rujukan bahwa wayang adalah produk budaya asli bangsa Indonesia. Wayang telah ada dan pernah dipertunjukkan pada zaman kejayaan Kerajaan Kediri yang bertepatan pada zaman pemerintahan Raja Erlangga di awal abad ke-11. Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa wayang telah ada pada zaman pemerintahan Prabu Jayabaya di Mamonang pada tahun 930.

Terlepas dari perbedaan tahun munculnya wayang pertama kali, wayang tetaplah wayang yang embrionya berasal dari leluhur bangsa Indonesia. Salah satu buktinya yang paling mudah adalah bahasa yang tergunakan dalam wayang. Bahasa Jawa, misalnya, merupakan bahasa asli masyarakat Jawa yang dipergunakan sebagai bahasa resmi dalam pagelaran Wayang Kulit. Ia bukanlah bahasa bahasa India ataupun Yunani.

Memasuki bab Sifat dan Ciri-Ciri Wayang, pembaca bakal menemukan bahasan sifat-sifat wayang dan karakter atau watak tokoh-tokoh dalam pewayangan. Menurut Amir Mertosedono, sebagimana kutipannya terhadap hipotesis Dr. Hazeu, wayang di Jawa (dan di Indonesia pada umumnya) bersifat khusus dan tidak hanya berkutat pada unsur-unsur hiburan belaka. Namun juga memiliki ajaran-ajaran dan makna-makna kehidupan yang dilatari oleh suatu keyakinan (agama).

Di lembaran-lembaran yang lain, bab ini juga menyampaikan bahasan watak-watak yang diperankan oleh 30 tokoh. Di antaranya adalah putera ketiganya Dewi Kunthi yang bernama Arjuna. Sosok yang dalam cerita Mahabharatayudha berhasil menyelesaikan amukan Karna itu memiliki watak tenang dan halus. Berbeda jauh dengan Dursasana yang dalam menjalani takdir perannya sebagai sosok yang kasar dan brangasan itu (hlm.63).

Selain bahasan tentang asal-usul, jenis, dan ciri-ciri wayang, buku ini juga menghadirkan kajian lainnya secara mendalam. Mulai dari peralatan dan perlengkapan yang ada dalam setiap pagelaran wayang hingga kilasan cerita-cerita wayang. Semua itu disajikan Amir Mertosedono dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan sesekali melibatkan istilah-istilah Jawa. [MG. Sungatno/CABC]

read more >>

Nama Saya SBY

humor, cerita lucu, humor politik, merapi, yogyakarta, jakarta, sby
Judul Buku : Merapi Tak Pernah Ingkari Monarki : Kumpulan Humor tentang Gunung Merapi dan Keistimewaan Yogyakarta
Editor : Tri Agus S. Siswowiharjo
Penerbit : PSM Yogyakarta, GERAM, dan Barak Jinem
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xi + 71 halaman

”Nama saya SBY. Jabatan Saya Presiden Republik Indonesia ke-6; hasil Pemilu 2004 dan pemilu 2009. Saya bukan Capres tahun 2014. Istri, saya ulangi, Istri dan anak-anak saya, juga tidak akan mencalonkan; jadi presiden 2014. Saat ini, saya, juga tidak mempersiapkan siapa-siapa untuk menjadi Capres 2014. Biarlah rakyat dan Demokarasi yang berbicara pada tahun 2014 mendatang”.

Tepuk tangan dan senyuman hadirin Indonesian Young Leader Forum 2011 pun mulai reda. Minimal, tidak sekompak saat sosok yang mengenalkan diri dengan nama SBY itu mengawali momen perkenalan diri (9/6). Saat itu ada meriahnya tepuk tangan, senyum agak lebar, dan tawa-tawa pelan namun licin. Para hadirin seolah menemukan suasana baru yang lucu, sosok homoris, dan hal-hal janggal lainnya dari arah depan pandangan mereka. Ntahlah.



Tapi, adakah KTP warga Indonesia yang bertuliskan SBY belaka di belakang form namanya? Siapakah SBY itu? Dan juga, benarkah kata SBY merupakan akronim yang menjelma dari Susilo Bambang Yudhoyono saja?

Tentu tidak. Masih banyak SBY-SBY yang bukan berasal dari Susilo Bambang Yudhoyono. ”Sumber Bencana Yogya” pun bisa disusutkan menjadi SBY sebagaimana dalam kumpulan humor ini. Atau juga ”Sengsoro Banget Yo” (sengsara sekali ya). Lebih ngeri lagi, ”Soyo Bubrah Yo” (semakin berantakan ya) [hlm. 64].
Tiga versi kepanjangan dari urutan S, B, dan Y itulah yang tampak jelas dalam kutipan bernada plesetan negatif melengkapi buku ini. Namun demikian, potensi munculnya plesetan-plesetan lainnya tidak bisa ditebak kapan lagi munculnya. Yang jelas, masyarakat Yogyakarta terbukti berbakat dalam kreasi singkat-menyingkat dan memperpanjang kata atau susunan huruf.
Dalam keadaan adem ayem saja, misalnya, banyak nama-nama jalan di sini yang lebih akrab di sebut dengan singkatannya. Bukan dengan nama asli atau resminya dalam formalitas peta Yogyakararta. Lantas, bagaimana jika Wong Jogja merasa hatinya tak nyaman lagi saat keistimewaan Jogjakarta diusik dawuh dari Istana Negara Kesatuan Republik Indonesi (NKRI) di Jakarta? Kenyataannya; sempat berkibar spanduk-spanduk demonstran bertulis singkatan-singkatan dan atau kepanjangan suatu kata/huruf. Tak terkecuali pada sebuah nama yang lebih terhormat dan bercitra merakyat jika pemiliknya dipanggil Bapak eS, Be, Ye itu.

Kreatifitas membelak-belokkan, memplesetkan, memperpanjang dan menyingkat susunan kata semacam itu sebenarnya sudah lama dilakoni masyarakat Jogja dan daerah-daerah lain di kawasan Indonesia. Jauh sebelum Bapak SBY menjabat sebagai presiden Indonesia, dapat kita baca ulang dalam sejarah perjalanan Indonesia berikut permainan kata yang ada. Lihat saja, misalnya, istilah Supersemar, Gestapu, Gestok, dan masih banyak lagi tentunya. Hanya saja, tindakan semacam ini tidak jauh dari tujuan tertentu. Entah sebagai mediator untuk mempermudah penyebutan nama, propaganda politik maupun sekedar tindakan mengkonotasikan sesuatu pada hal-hal spesifik.

Dalam konteks ini, cukup menarik adanya kesimpulan yang sempat muncul dari Jean-Luc Maurer, Profesor Studi Pembangunan dan Politik Asia di Graduate Institute of Development Studies (IUED) Jenewa, Swiss. Menurut beliau, masyarakat Indonesia berbakat dalam membuat akronim. Caranya dengan menempatkan beberapa suku kata yang diambil dari kata-kata yang telah dipisah-pisahkan ke dalam bagian-bagian yang sudah diurutkan secara berdampingan (hlm. 64). Adapun akronim-akronim yang terkesan lucu dan bermain kata-kata itu lebih difungsikan sebagai sebagai Protes Politik di Indonesia.

Tak terkecuali akronim-akronim dan susunan kata-kata dalam buku tipis ini. Kata-kata yang semula tampak biasa, setelah tersusun, tercerita, dan tersirat suasana tertentu, berubah pula menjadi lucu. Dan, persis pula dengan apa yang ditengarahi Maurer bahwa ini semua tidak kering dari suasana protes-protes tertentu yang bernuansa politis. Hanya saja, nuansa politis itu tidak serta merta tampak dalam jilatan-jilatan politik sebagaimana panas dan gersangnya perdebatan sekaligus penyangkalan demi suatu tujuan. Melainkan muncul dalam ragam bahasan dan sindiran yang terkadang sama sekali terasa tidak lucu. Khususnya bagi pembaca yang jauh dari pemahaman situasi, kondisi, dan informasi -khusus maupun umum- yang melatari terjadinya kelucuan cerita.

Dengan begitu, dibarenginya kumpulan humor ini dengan kata pengantar, prolog, dan epilog, merupakan nilai lebih dari buku ini dalam usaha menangkal terjadinya perbedaan anggapan lucu atau tidaknya cerita. [Muhammad Ghannoe/cabc]

read more >>

Ketika Jawa Terendam Darah

resensi buku, buku, Ken Dedes, Tunggul Ametung, Ken Arok, Brahmana Gajah Para, Ken Ndok=
Judul:Konflik Berdarah di Tanah Jawa
Penulis:Raka Revolta
Penerbit:Bio Pustaka
Edisi:2009
Tebal:viii + 152 halaman

Tanyakan pada Ken Dedes, siapakah pembunuh akuwu Tunggul Ametung? Jawabnya: Ken Arok! Anak hasil hubungan gelap Brahmana Gajah Para dengan Ken Ndok itulah yang menjadikan Anusapati yatim sejak dalam kandungan (hlm.5).

Kisah perjalanan Ken Arok, merupakan cerita “anak kuburan” yang berambisi pada harta, tahta (kekuasaan) dan wanita. Untuk memuja ambisinya, anak yang dipungut Lembong -pencuri yang kecolongan harta, itu semula tidak pernah hengkang dari judi, tidak segan membunuh, menipu, dan menjarah keperawanan serta istri orang. Janggan dan Ken Dedes, merupakan contoh perempuan yang menjadi korban nafsu seks Ken Arok.

Dari kisah Ken Arok ini, Raka Revolta mulai menelusuri jejak-jejak tragedi berdarah lainnya di tanah Jawadwipa. Konflik berdarah yang hadir dari jiwa-jiwa pemberontak sejak Raja Tumapel yang bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi itu dibeberkan Raka hingga pemberontakan Pangeran Diponegoro. Di atas tanah Jawa inilah darah-darah mereka muncrat, berceceran, membeku, lantas mencipta kekuasaan yang tak pernah abadi.

Ken Arok adalah seorang anak yang semasa banyi dibuang oleh orang tuanya di sebuah pemakaman (kuburan) yang sepi dari manusia. Ketika seorang pencuri, Lembong, melintasi makam itu merasa kaget dan kasihan terhadap bayi tersebut. Lembong pun memungut bayi itu dan diasuhnya hingga masa menginjak remaja. Sayang, akhirnya Lembong kecewa terhadap Ken Arok kecil yang mulai gemar berjudi. Karena terlalu lelah mengingatkan dan hartanya habis dijadikan taruhan Ken Arok, Lembong hanya putus asa dan mengusirnya. Ken Arok pun menggelandang hingga dijadikan anak angkat seorang bandar judi, Bango Samparan. Namun, meski kebutuhannya tercukupi, Ken Arok merasa tidak betah hidup bersama saudara-saudara dan ibu angkatnya.

Tanpa persetujuan Bango Samparan, Ken Arok pergi dari rumah dan bersahabat dengan Tita, anak Kades Siganggeng. Sejak menjalin persahabatan, Ken Arok mulai diajak belajar membaca dan menulis Tita di rumah Janggan. Sayang, kejadian naas menimpa Janggan: Ken Arok menjarah keperawanannya di suatu malam. Merasa tidak rela ditinggalkan Ken Arok akibat terusir dari rumah Janggan, Tita menyusul dan mengajaknya membuka perdukuhan di sebelah timur Siganggen. Bersama Tita, kenakalan Ken Arok justru semakin menjadi-jadi. Keduanya mulai berani merampok para pedagang yang melintasi jalan di dukuh tersebut dan tak jarang Ken Arok mengganggu perawan-perawan desa.

Meski kelakuannya dikecam pemerintah setempat, Ken Arok justu balik mendapat keberuntungan. Ia bertemu dan dilindungi Sang Brahmana dari India, Loh Gawe. Dari peristiwa ini, Akuwu (Camat) Tumapel Tunggul Ametung menggalkan rencananya untuk menangkap dan mengadili Ken Arok. Justru, Tunggul balik mengangkat Ken Arok menjadi pengawalnya.

Ironisnya, kebaikan hati Tunggul Ametung berbuntut pembunuhan terhadap dirinya. Dengan sebilah keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok menikam Tunggul Ametung hingga wafat. Selanjutnya, janda Tunggul Ametung, Ken Dedes, diperistri Ken Arok sekaligus menobatkan dirinya sebagai Akuwu Tumapel.

Bencana pun berlanjut. Dibawah kendali Ken Arok, Tumapel menyatakan merdeka dari kekuasaan Kediri. Bersama prajurit Kerajaan Tumapel, Ken Arok menyerang Kerajaan Kediri dibawah raja Kertajaya. Dalam pertempuran, pasukan Kediri kalah dan Kertajaya tewas. Akhirnya, Kerajaan Kediri berbalik tunduk dalam berbagai perintah kerajaan Tumapel.

Kesuksesan Ken Arok dalam mewujudkan ambisinya, ternyata berbuntut pada ambisi putera Tunggul Ametung, Anusapati, untuk membalas dendam dan merebut tahta kepemimpinan di Tumapel. Gayung pun bersambut, Anusapati behasil memperoleh keris Mpu Gandring yang pernah digunakan Ken Arok. Dengan keris itu Anusapati melakukan siasat-siasat jitu yang akhirnya berhasil merenggut nyawa Ken Arok. Pasca peristwa ini, putera Ken Arok yang bernama Tohjaya juga berambisi tidak jauh berbeda dengan Anusapati. Dengan keris Mpu Gandring yang berhasil ditemukannya, Tohjaya memperdaya dan menjebak Anusapati dalam keadaan yang melenakan. Sehingga, tanpa disadari sebelumnya, Anusapati terpaksa menghembuskan nafas terakhirnya ketika ditusuk oleh Tohjaya dengan keris Mpu Gandring pula.

Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Tumapel (Singasari) pun menyisakan dendam kesumat di antara keturunan Ken Arok, Tunggul Ametung, Kertajasa (Raja Kediri yang dikalahkan Ken Arok). Mereka saling beradu strategi dan intrik-intrik politik lainnya, atas nama membalas dendam, perebutan kekuasaan, harta, dan perempuan. Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, kematian-kematian mulai susul-menyusul, baik raja, pemerintah, maupun rakyat kecil yang tidak mengerti akar permasalahan yang terjadi.

Dendam kesumat yang tersulut sejak kematian Tunggul Amtung tersebut tidak hanya berhenti dimasa kejayaan Singasari. Koflik berdarah selalu muncul hingga zaman Jawa Islam dan melibatkan orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungan darah (keturunan) dengan Ken Arok atau Tunggul Ametung. Selain itu, konflik yang menyisakan catatan kematian demi kematian itu menjalar hingga ke Makassar. Di atas tanah itulah Pangeran Diponegoro bersama keluarga dan pengikutnya dibuang oleh Belanda sebagai hukuman terhadap mereka yang memberontak. Sungguh menyedihkan.

Mungkinkah kisah sedih itu akan berlanjut di negara ini? Dapatkan pemilihan umum tahun ini bisa aman tanpa korban?. [Sungatno/CABC]***

read more >>

Lebih Baik Indonesia Tenggelam

resensi buku, buku, Mohammad Hatta, biografi, sejarah
Judul:Mohammad Hatta; Biografi Singkat 1902-1980
Penulis:Salman Alfarisi
Penerbit:Garasi (Kelompok Penerbit Arruz), Yogyakarta
Edisi:I (Pertama) 2009
Tebal:242 halaman
"…..Bagi Pemoeda Indonesia, Ia lebih soeka melihat Indonesia tenggelam ke dasar laoetan daripada mempoejaija sebagai d jadjahan orang kembali…"

Demikian kutipan pidato Bung Hatta di sebuah rapat umum di Lapangan Ikada Jakarta pada 8 Desember 1942. Waktu itu, Bung Hatta bersama Bung Sjahrir baru saja terbebas dari pencekalan Pemerintah Hindia Belanda yang kesekian kali. Dan, situasi keamanan internasional masih panas akibat meletusnya Perang Asia Timur Raya setahun sebelumnya.

Pasca pidato ‘garang’ itu, Bung Hatta menjadi buah bibir di kalangan pemoeda-pemoeda pada zamannya. Sengatannya mampu melepuhkan spirit mereka untuk tetap diakui sebagai pemoeda sejati Indonesia. Bukan pemoeda Indonesia jika lebih suka melihat Indonesia terjajah bangsa-bangsa serakah dan tak berperikemanusiaan. Lebih baik Indonesia tiada daripada terjajah untuk kesekian kalinya.

Buku ini, bukanlah tulisan Bung Hatta untuk mengenang perjalanan dan perjuangannya sendiri. Melainkan tulisan Salman Alfarisi yang mengajak bangsa ini untuk mengenang kehidupan dan perjuangan Proklamator RI itu. Terutama, ketika bangsa ini melakukan peringatan wafatnya Bung Hatta pada 14 Maret kemarin. Menurut penulis, Bung Hatta merupakan sosok founding father yang spirit perjuangannya terhadap bangsa ini perlu untuk kita renungkan kembali. Terlebih dalam menyikapi keadaan negeri yang masih “terjajah” ini. Sebab, hingga kini bangsa Indonesia belum mampu mewujudkan harapan founding fathers secara sempurna. Indonesia masih miskin, tergantung bangsa lain, dan belum bisa maju menyaingi bangsa-bangsa yang sejak dulu telah tercium kemajuannya.

Bung Hatta merupakan putera dari pasangan Haji Mohammad Jamil dan Siti Saleha. Ia terlahir menjelang fajar menyingsing pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Payakumbuh, Sumatera Barat, dengan nama Muhammad Hatta. Menurut Hamka, nama itu berasal dari nama Muhammad Ata. Nama ini diambil dari nama lengkap seorang tokoh muslim Ahmad ibnu Muhammad ibnu Abdul Karim ibnu Ata Ilah Al Sakandari. Tokoh ini merupakan sosok yang masyhur pada masanya. Ia adalah pengarang kitab Al Khikam yang banyak dikaji oleh umat Islam.

Sejak kecil, selain mendapat kasih sayang dari orang tuanya, Hatta juga menjadi cucu kesayangan kakek-neneknya. Bahkan, kakeknya sempat berniat ingin menyekolahkan Hatta ke Makkah. Sayangnya, rencana kakeknya itu terpaksa digagalkan ketika Hatta yang baru berusia delapan bulan itu ditinggal mati oleh ayahnya. Sehingga, biaya untuk menyekolahkan Hatta ke luar negeri terasa berat bagi keluarga itu.

Pendidikan Hatta di mulai dari Europese Lagere School (ELS) di Bukittinggi. Di sekolah ini, Hatta berhasil menamatkannya pada tahun 1916. Lantas, Hatta kecil melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lagere School (MULO), di Padang. Di sini, kecerdasan Hatta mulai tampak dan mendapat perhatian khusus dari guru-gurunya. Termasuk Haji Abdullah Ahmad yang telah mengenalkannya dengan pemikiran-pemikiran modernisme Muhammad Abduh dari Mesir.

Selain sekolah, Hatta aktif dan menjadi Bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB), Cabang Padang. Sejak inilah Hatta mulai mengenal H.O.S. Tjokroaminoto dan Agus Salim melalui tulisan-tulisan yang ada di Surat Kabar Utusan Hindia dan Neratja. Meski demikian, pendidikan Hatta tetap berjalan normal dan berhasil menamatkannya pada tahun 1919.

Usai dari MULO, Hatta melanjutkan ke Handel Midlebare School, Indonesia masih miskin, tergantung bangsa lain, dan belum bisa maju menyaingi bangsa-bangsa yang sejak dulu telah tercium kemajuannya.

Bung Hatta merupakan putera dari pasangan Haji Mohammad Jamil dan Siti Saleha. Ia terlahir menjelang fajar menyingsing pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Payakumbuh, Sumatera Barat, dengan nama Muhammad Hatta. Menurut Hamka, nama itu berasal dari nama Muhammad Ata. Nama ini diambil dari nama lengkap seorang tokoh muslim Ahmad ibnu Muhammad ibnu Abdul Karim ibnu Ata Ilah Al Sakandari. Tokoh ini merupakan sosok yang masyhur pada masanya. Ia adalah pengarang kitab Al Khikam yang banyak dikaji oleh umat Islam.

Sejak kecil, selain mendapat kasih sayang dari orang tuanya, Hatta juga menjadi cucu kesayangan kakek-neneknya. Bahkan, kakeknya sempat berniat ingin menyekolahkan Hatta ke Makkah. Sayangnya, rencana kakeknya itu terpaksa digagalkan ketika Hatta yang baru berusia delapan bulan itu ditinggal mati oleh ayahnya. Sehingga, biaya untuk menyekolahkan Hatta ke luar negeri terasa berat bagi keluarga itu.

Pendidikan Hatta di mulai dari Europese Lagere School (ELS) di Bukittinggi. Di sekolah ini, Hatta berhasil menamatkannya pada tahun 1916. Lantas, Hatta kecil melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lagere School (MULO), di Padang. Di sini, kecerdasan Hatat mulai tampak dan mendapat perhatian khusus dari guru-gurunya. Termasuk Haji Abdullah Ahmad yang telah mengenalkannya dengan pemikiran-pemikiran modernisme Muhammad Abduh dari Mesir.

Selain sekolah, Hatta aktif dan menjadi Bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB), Cabang Padang. Sejak inilah Hatta mulai mengenal H.O.S. Tjokroaminoto dan Agus Salim melalui tulisan-tulisan yang ada di Surat Kabar Utusan Hindia dan Neratja. Meski demikian, pendidikan Hatta tetap berjalan normal dan berhasil menamatkannya pada tahun 1919.

Usai dari MULO, Hatta melanjutkan ke Handel Midlebare School atau Prins Hendrik School (Sekolah Menengah Dagang) di Batavia (Jakarta) dan tamat pada tahun 1921. Selama sekolah, Hatta muda mulai belajar mengarang dan menawarkan ke pada media massa waktu itu. “Namaku Hidania!, merupakan tulisan pertamanya yang di tayangkan majalah Jong Sumatera.

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Dagang, Hatta melanjutkan pendidikannya di Netherland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda. Semasa di Negeri Kincir Angin ini, ia mulai mengenal lebih jauh pemikiran tokoh-tokoh dunia, semisal tokoh-tokoh pembaharu dan sosialis. Di negeri ini pula, jiwa nasionalisme-nya terhadap Indonesia mulai semakin mantap. Dengan bergabung organisasi Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia), Hatta mulai berani menentang keberadaan kaum penjajah di nusantara. Akibatnya, Hatta sempat ditangkap dan diadili pemerintah Belanda karena dituduh melakukan aksi subversif. Meski demikian, pada 22 Maret 1928, ia terbebas dari segala tuduhan dan keluar dari penjara. Pada 5 Juli 1932, Hatta lulus dari Netherland Handelshogeschool, lantas pulang ke Tanah Air.

Sejak kepulangannya, Hatta mulai dihadapkan dengan realitas penjajahan yang terjadi di negeri ini. Melalui kaderisasi dan pendidikan ditengah kalangan pemuda serta berbagai organisasi, Hatta melancarkan aksi penentangan terhadap penjajah. Termasuk Jepang yang mengambil alih penjajahan yang dilakukan kolonial Belanda sejak tahun 1942.

Dengan keaktifannya di berbagai organisasi dan menyalurkan gagasan-gagasannya di media massa, Hatta mulai dikenal luas bangsa ini. Bersama Soekarno, Hatta di tunjuk teman-teman mereka untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sehari setelahnya, ia diangkat secara aklamasi sebagai wakil presiden pertama RI. Sehingga, tantangan untuk berjuang demi rakyat semakin berat. Meski begitu, Hatta tetap bertahan dan menjunjung tinggi amanah yang telah diembannya.

Dua tahun kemudian, Soekarno menemui dan melamar Siti Rahmiati Rachim untuk Hatta. Perempuan asal Desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat itu pun dinikahi Hatta pada tanggal 18 November 1945. Sayangnya, pada 1 Desember 1956, Hatta terpaksa mengundurkan diri dari jabatan yang diembannya. Hatta merasa tidak sejalan lagi dengan Soekarno dalam memimpin bangsa Indonesia. Meski demikian, hubungan persahabatan keduanya tampak baik-baik saja dan tidak ada permusuhan yang berarti diantara kedua. Hingga Soekarno wafat, Hatta masih tetap bersahabat. Hingga Hatta Wafat, Soekarno tidak pernah dihujat.

Kehadiran buku ini terasa tepat ketika bangsa ini melakukan refleksi terhadap pemikiran dan kehidupan Bung Hatta yang kewafatannya diperingati pada 14 Maret 2009 kemarin. Meski kurang lengkap, buku ini cukup jelas dalam menggambarkan perjuangan dan pemikiran-pemikiran Bung Hatta. Kebesaran nama dan gagasan-gagasan Bung Hatta mengingatkan pembaca untuk melanjutkan perjuangan itu.

Perjuangan tidak boleh selesai selagi kita tidak menginginkan Indonesia tenggelam diantara hiruk pikuk kemajuan zaman. [Sungatno/CABC]***

read more >>

Antologi Resensi Buku Sastra

resensi buku, buku, Mustofa W. Hasyim, novel, rumah cinta
Judul:Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut di Baca Sebelum di Kuburkan
Penulis:An. Ismanto dkk.
Penerbit:I:Boekoe, Yogyakarta
Edisi:1, 2009
Tebal:1000 halaman

Di antara buku-buku yang berjejer di rak sebuah Toko Buku di Yogyakarta, saya pernah tertarik pada sebuah buku dan langsung membelinya. Selain penulisnya terasa tidak asing bagi saya, judul buku dan catatan dalam endorsment-nya cukup memikat. Terlebih, ketika pihak toko tidak –atau mungkin lupa- menyediakan contoh buku itu yang bebas dari penjara plastik srink (plastik putih-bening).Sayangnya, setelah melihat-lihat isi yang ditawarkan penulis, minat untuk segera menenggak gagasan-gagasan yang ada tiba-tiba surut.

Tulisan-tulisan dalam buku itu pernah saya nikmati dari beberapa koran sebelum buku itu terbit. Di dalamnya, hanya kumpulan tulisan-tulisan penulis yang pernah dipublikasikan koran dan beberapa makalah yang pernah disampaikan dalam diskusi. “Kok, ngga’ sekalian resensi-resensinya hya..???”, gumamku tanpa berfikir panjang. Waktu itu saya langsung ingat dengan resensi-resensi penulis terhadap buku yang telah banyak dipublikasikan koran dan majalah.

Kodifikasi tulisan-tulisan yang ‘tercecer’ menjadi buku memang memiliki nilai plus. Selain turut memeriahkan dunia literatur, nilai ekonomis pun segera bersanding ketika diterbitkan sekaligus dijual. Apalagi, ketika penerbitan karya-karya itu diberi embel-embel tulisan terbaik atau mendapat anugerah dari sebuah institusi atau komunitas tertentu yang memiliki daya tawar tinggi. Image penulispun segera terdongkrak seiring kesuksesan marketing dan informasi buku. Namun, proses pemasaran buku-buku semacam itu, akan terganjal ketika bertemu dengan pembaca yang tidak memiliki selera untuk mengulang-ulang bacaan yang ajek. Kecuali, bagi mereka yang lunglai dalam strategi pemasaran buku.

Layaknya para peninjau buku, para penulis tak ubahnya para peresensi (reviewers) buku diberbagai koran, majalah, maupun media massa lainnya. Hanya saja, ada perbedaan antara peresensi di media-media itu dengan peresensi yang ada dalam buku ini. Tentunya, para peresensi di media massa tidak lepas dari aturan-aturan yang mengikat dan menyesuaikan karakter media dan segmen pembacanya. Hal ini tidak lepas dari maujudnya media massa yang berorientasi pada kepentingan ekonomi dan atau kekuasaan.

" Dari sinilah terkadang muncul permasalahan yang berpotensi “menyimpang” dengan apa yang digagas penulis buku; melebihi atau mengurangi. "

Dalam konteks ini, terasa lumrah ketika ada lebih dari satu media menayangkan resensi buku yang sama namun dengan analisis dan kualitas peninjauan yang berbeda. Termasuk teknik penyampaian, gaya, dan pilihan kata yang digunakan sang peresensi dalam menyajikan apresiasinya terhadap suatu buku.


Kasus semacam ini juga sering muncul ketika terjadi ketidakseimbangan dalam mengapresiasi antara esensi yang terkandung dalam sang karya dengan teknik penulisannya. Begitu juga dengan luas atau piciknya sudut pandang yang digunakan peresensi akan berpengaruh dalam mengapresiasi. Jika kurang memahami isi dan konteks buku, sebuah buku akan mudah tervonis baik atau jelek, bersahabat atau berbahaya, dan gagal atau sukses dalam mencetuskan ide. Padahal, subjektifitas peresensi tersebut akan berpengaruh pada persepsi calon pembaca terhadap objektifitas sang karya. Sehingga, terasa maklum ketika fakta lapangan menjawab bahwa ada sejumlah buku yang dielu-elukan publik dan ada juga yang dibakar di depan umum sebagai reaksi yang tertumpah dengan cara berbeda.

Fakta-fakta semacam ini juga terjadi dalam perjalanan buku-buku sastra di Indonesia. Mulai ada yang ditarik dari peredaran, dilarang untuk diterbitkan, dipaksa untuk ganti cover, dicemooh habis-habisan secara “tidak sehat” oleh penulis lain atau publik, dibakar terang-terangan dengan motif pelecehan dan kasus-kasus yang lainnya. Reaksi-reaksi itu pun tidak jarang menyeret penulis buku untuk sekedar beradu fisik atau kekuatan hukum demi mempertahankan –memimjam istilah Pram- anak-anak ruhani mereka.


Dalam buku inilah, buku-buku sastra Indonesia itu dibingkai dan diulas para penulis dalam satu liang yang sama. Baik yang memiliki masa lalu dipuja-puja atau diinjak-injak, buku-buku itu memiliki nilai-nilai mulia yang patut untuk dikaji dan memiliki pengaruh terhadap cara kita nantinya dalam meneropong karya sastra bangsa ini ke depan. Namun, sebagaimana para penulis pada umumnya, para penulis dan editor buku ini juga memiliki persepsi yang subjektif, meskipun juga menggunakan pijakan-pijakan tertentu. Sehingga, tidak menutup kemungkinan, subjektifitas mereka akan bersimpangan dengan persepsi pembaca. Untuk itu, tidak ada gunanya jika masalah relativitas dalam penilaian buku-buku itu menghalangi sampainya isi buku ini di ranah pengetahuan sastra pembaca.

Meski begitu, buku yang memiliki 1000 halaman ini tidak memiliki kesamaan seratus persen dengan fenomena di atas. Meski tampak mengulang tema pembahasan masa lalu, pembahasannya tidak serta merta mengambil alih kajian yang pernah terpublikasikan baik dalam media massa maupun buku. Walaupun masih ada yang menggunakan pisau analisis yang ‘sama’, dalam menyajikannya tampak memberi corak dan kesan yang cukup berbeda. Semisal, menggunakan pendekatan filsafat bahasa, konteks zaman, dan psikologi penulis.

Selain itu, jika dulu buku-buku itu dibedah dengan berkutat pada –meminjam istilah Goenawan Mohammad- sang karya atau sang penulisnya, dalam buku ini tampak lebih luas. Mulai dari sang karya, sang penulis, sang pembaca, hingga situasi zaman pada masa terbitnya sebuah buku. Begitu juga dengan efek yang ditimbulkan sang karya. Mulai dari jagat sastra Indonesia sendiri hingga publik secara umum, tidak luput dari sentuhan para penulis.


MG. SungatnoKetua Lembah Kajian Peradaban Bangsa (LKPB) Yogyakarta

Sumber : Batam Pos Edisi Minggu, 14 Juni 2009

read more >>

Memoar Sisa Supersemar

Soekarno, Wilardjito, Supersemar, Soeharto, Indonesia
Judul:Mereka Menodong Bung Karno; Kesaksian Seorang Pengawal Presiden
Penulis:Soekardjo Wilardjito
Penerbit:Galangpress, Yogyakarta
Edisi:2008
Tebal:354 halaman


Indonesia telah menutup usia kemerdekaannya yang ke-62. Kini, sejak 17 Agustus 2008 kemarin, negara ini mulai membuka lembaran baru di usia kemerdekaannya yang ke-63. Tentunya, dalam menapaki usianya yang tidak muda lagi ini terdapat beragam keinginan dari bangsanya.


Kehidupan bangsa dan negara yang sukses adalah cita-cita yang selalu menggelora dan menggema diatas bumi nusantara ini. Untuk itu, tentunya bangsa ini perlu memandang masa depan dengan penuh cita-cita kesuksesan, merealisasikannya dalam sikap, tindakan, dan ucapan, serta tidak menafikan pelajaran dan pengalaman masa lalu. Dari sejarah masa lalu itulah, akan terpancar ribuan cahaya yang terpendar-pendar dan menuntun kita dalam bersikap, bertindak, dan berkata menuju kesuksesan yang kita idam-idamkan bersama.

Buku ini, merupakan literatur sebuah sekuel sejarah yang akan mengajak pembaca untuk membicarakan masa lalu Indonesia. Memang, membaca judul buku ini saja, pembaca akan mengetahui bahwa kita akan diajak membicarakan sosok mantan Presiden Soekarno. Tentunya, dalam buku ini, pembaca akan menemukan situasi intrik-intrik politik yang pernah dialami presiden pertama kita ini dalam rentang masa kepemimpinannya. Sedangkan Wilardjito, selain sebagai penulis buku ini, adalah sosok veteran TNI-AD yang pernah mendapat tugas penjagaan atas keselamatan Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966 dini hari.

Dikisahkan, pada tanggal 10 Maret 1966, Pressiden Soekarno berada di istana Bogor. Malam itu, petugas yang menjaga keselamatan Presiden adalah Kolonel Sumirat. Setelah Soekarno masuk kamar dan hendak tidur, Sumirat pun mengundurkan diri. Selanjutnya, Wilardjito ganti melakukan penjagaan sekaligus mengontrol anak buahnya di lokasi Istana tersebut. Memasuki tanggal 11 Maret 1966 dini hari, ketika berada disekitar air mancur di depan Istana, Wilardjito bertemu dengan salah satu anggota Cakrabirawa yang hendak memberikan laporan.

Dalam laporan itu, Pelapor mengabarkan bahwa ada empat Jenderal yang berada di pos tunggu dan ingin menghadap Presiden. Mengetahui hal itu, Wilardjito segera menyuruh pelapor untuk menolak keinginan empat Jenderal dengan alasan Presiden sedang istirahat dan tidak boleh diganggu. Belum sempat keduanya berpisah, keempat Jenderal tersebut –Jenderal M. Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, dan M. Panggabean- mendatangi keduanya. Setelah keempat Jenderal itu menyampaikan kedatangannya, Wilardjito langsung menolak keinginan mereka. Namun, mendengar jawaban Wilardjito itu mereka segera "menyerang" dengan pembelaan bahwa maksud kedatangan mereka sangat penting dan mendesak.

Setelah melalui sebentar pertimbangan, Wilardjito menyetujui mereka. Keempat Jenderal itu diminta menunggu Presiden diruang kerja beliau. Sementara, Wilardjito segera menuju pintu kamar Soekarno dan memberitahukan hal itu. Sedangakan si pelapor, segera kembali ketempat tugasnya.

Seusai memberitahu kedatangan empat Jenderal kepada Soekarno, keenam orang pun bertemu dalam satu ruang; ruang kerja kepresidenan. Empat Jenderal pun segera mengutarakan maksud tujuan mereka yang diwakili Jenderal M. Yusuf. Kemudian, dari tangan Jenderal itu menyodorkan sebuah map warna merah jambu yang didalamnya terdapat sebuah surat perintah yang belum bertanda tangan. "Mohon Paduka menandatangani," pinta M. Yusuf sambil memandang Soekarno. Menurut Wilardjito, setelah membuka map itu Soekarno terlihat terkejut. "Lho, ini kok diktum militer, dan bukan diktum kepresidenan?", tanya Soekarno dengan nada kaget sambil memandangi keempat Jenderal tersebut (hlm. 159).

Memang benar, menurut penulis yang saat itu kebetulan berada dibelakang Presiden, surat perintah yang dibuat sepihak itu tidak terbubuhi lambang Garuda Pancasila dan Kop surat yang bertuliskan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Melainkan, dalam secarik surat itu terdapat Kop Markas Besar Angkatan Darat (Mabad) yang tertera di pojok kiri atas kertas. Mendapat pertanyaan ganas itu, keempat Jenderal hanya terdiam dan tidak memberikan jawaban yang memuaskan. "Untuk merubah, waktunya sudah sangat sempit. Tanda tangani sajalah Paduka. Bismillah", jawaban Jenderal Basoeki menyelonong dalam kebekuan suasana sembari mencabut pistol FN 46 dari sarungnya dan diikuti Panggabean. Tak kalah cepat, Wilardjito yang bertanggung jawab atas keselamatan Presiden pada malam itu, dengan cepat mencabut pistolnya yang kemudian diarahkan kepada empat Jenderal tersebut.

Suasana menjadi tegang. Namun, melihat hal itu Soekarno segera melerai mereka dan menyepakati keinginan empat Jenderal untuk menandatangani surat tersebut. Sebagai gantinya, Soekarno meminta kepada mereka untuk segera mengembalikan surat itu setelah selesai digunakan.

Pada pukul 16.30, Soekarno kembali didatangi M. Yusuf, Amir Machmoed, dan Basoeki Rachmat. Mereka meminta kepada Presiden untuk memberikan surat perintah yang berdiktum kepresidenan demi keamanan dan ketertiban masyarakat bagi Jenderal Soeharto. Setelah Soekarno memberikan surat yang mereka inginkan itu, Surat Perintah dibacakan pada pukul 20.00 WIB di RRI Pusat dan dilanjutkan dengan pembacaan surat pembubaran PKI.

Setelah siaran selesai, para anggota PKI pun ditangkapi oleh mereka, termasuk orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI. Wilardjto, merupakan salah satu orang yang dituduh sebagai anggota PKI yang juga ditangkap pada malam itu juga. Kemudian, ia di sidik, dipukuli, ditelanjangi, disetrum, dimaki-maki, diancam dan berbagai siksaan lainnya. Bukan hanya itu, tanpa tuduhan yang jelas, ia langsung di masukkan LP. Wirogunan (Yogyakarta), LP. Kalisosok (Surabaya), dan terakhir di LP Ambon. Wilardjito bebas pada tanggal 9 Januari 1978 (hlm. 199-151).

Ironisnya, ia mendapat masalah lagi setelah "membeberkan" peristiwa Supersemar di Harian Umum Bernas, Yogyakarta, pada 22 Agustus 1998. Hasilnya, 29 kali persidangan untuknya, dengan tuduhan 'memberitakan kabar bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat'. Namun, pada akhirnya, Makhkamah Agung (MA) membebaskan Wilardjito dari segala tuduhan, pada 14 Agustus 2007.

Sebagai buku sejarah yang mengeluarkan cerita yang berbeda dengan pihak pemerintah dan versi pihak lain, tentunya buku ini cukup menghentakkan pembaca. Meski begitu, tidak menutup keinginan pembaca untuk "menyandingkan buku ini dengan buku lain", guna memperoleh keotentikan sejarah Indonesia. Dari keotentikan sejarah tersebut, bangsa ini akan lebih jelas dalam menyikapi sejarah perjalanan negeri ini, apakah patut diralat atau dilanggengkan dan dikabarkan kepada para generasi bangsa yang kelak memimpin bangsa ini.***

read more >>